Evaluasi Program Pembelajaran
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ...
Alhamdulillah pada hari ini saya masih diberi kenikmatan sehat untuk bisa mengetik di blog ini
Nah, pada kali ini saya akan melaporkan/berbagi hasil membaca saya mengenai startegi pembelajaran untuk memenuhi tugas mata kuliah Magang 1. Bahan yang menjadi sumber membaca saya yaitu jurnal yang berjudul “EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARAN”
EVALUASI PROGRAM PEMBELAJARAN
Mutu pendidikan dipengaruhi banyak faktor, yaitu siswa,
pengelola sekolah , lingkungan , kualitas pembelajaran, dan kurikulum . Hal ini
dipertegas oleh Mardapi yang menyatakan bahwa usaha peningkatan kualitas
pendidikan dapat ditempuh melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan
kualitas sistem penilaian. Keduanya saling terkait, sistem pembelajaran yang
baik akan menghasilkan kualitas belajar yang baik.
Selanjutnya sistem penilaian yang baik akan mendorong guru
untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi siswa untuk belajar
yang lebih baik. Salah satu faktor yang penting untuk mencapai tujuan
pendidikan dengan demikian adalah proses pembelajaran yang dilakukan, sedangkan
salah satu faktor penting untuk keefektifan pembelajaran adalah faktor
evaluasi, baik terhadap program, proses, maupun hasil pembelajaran. Evaluasi
dapat mendorong guru untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran serta
mendorong sekolah untuk meningkatkan fasilitas dan kualitas manajemen sekolah.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka di dalam pembelajaran
dibutuhkan guru yang tidak hanya mampu mengajar dengan baik, tetapi juga mampu
melakukan evaluasi dengan baik. Kegiatan evaluasi sebagai bagian dari program
pembelajaran perlu lebih dioptimalkan. Evaluasi tidak hanya bertumpu pada
penilaian hasil belajar, tetapi juga perlu penilaian terhadap input, output,
maupun kualitas proses pembelajaran itu sendiri. Optimalisasi sistem evaluasi
menurut Mardapi memiliki dua makna, yaitu sistem evaluasi yang memberikan
informasi yang optimal; dan manfaat yang dicapai dari evaluasi.
Manfaat yang utama dari evaluasi adalah meningkatkan
kualitas pembelajaran dan selanjutnya akan terjadi peningkatan kualitas
pendidikan. Bidang evaluasi pendidikan ditinjau dari sasarannya, evaluasi ada
yang bersifat makro dan mikro. Evaluasi makro sasarannya adalah program
pendidikan, yaitu program yang direncanakan untuk memperbaiki bidang
pendidikan. Evaluasi mikro sering digunakan di tingkat kelas, khususnya untuk
mengetahui pencapaian belajar siswa. Pencapaian belajar ini bukan hanya
bersifat kognitif saja, tetapi juga mencakup semua potensi yang ada pada siswa.
Jadi sasaran evaluasi mikro adalah program pembelajaran di kelas dan yang
menjadi penanggungjawabnya adalah guru .Konteks program pembelajaran di sekolah
menurut Mardapi ialah keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari
hasil belajar yang dicapai siswa. Di sisi lain evaluasi pada program
pembelajaran membutuhkan data tentang pelaksanaan pembelajaran dan tingkat
ketercapaian tujuannya. Keberhasilan program pembelajaran selalu dilihat dari
aspek hasil belajar saja, sementara implementasi program pembelajaran di kelas
atau kualitas proses pembelajaran itu berlangsung jarang tersentuh kegiatan
penilaian. PEMBAHASAN
A.
Pembelajaran yang sering juga disebut dengan belajar
mengajar, sebagai terjemahan dari istilah instructional terdiri dari dua kata,
belajar dan mengajar. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya
perubahan pada diri seseorang. Hal ini sesuai dengan pendapat Woolfolk dan
Nicolich yang mengatakan bahwa learning is a change in a person that comes
about as a result of experience. Belajar adalah perubahan dalam diri seseorang
yang berasal dari hasil pengalaman. Hal ini dipertegas oleh Sujana dan Ibrahim
yang berpendapat bahwa perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan
dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuan, kecakapan, dan kemampuan,
daya reaksi, dan daya penerimaan yang ada pada individu. Menurut aliran
behavioristik, kegiatan belajar terjadi karena adanya kondisi/stimulus dari
lingkungan. Kegiatan belajar merupakan respons/reaksi terhadap kondisi/stimulus
lingkungannya. Belajar tidaknya seseorang tergantung kepada faktor kondisional
dari lingkungan. Lingkungan dapat berupa lingkungan keluarga, masyarakat,
maupun lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah terdiri dari guru, media
pembelajaran, buku teks, kurikulum, teman sekelas, peraturan sekolah, maupun
sumber-sumber belajar lainnya.
Salah seorang tokoh aliran behavioristik, Gagne dalam
Gredeer dan Margaret mengemukakan bahwa belajar terdiri dari tiga komponen
penting, yaitu: kondisi internal ; kondisi eksternal ; dan hasil belajar . Sama
halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses, yakni
proses mengatur, mengorganisir lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga
menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan kegiatan belajar. Hal ini dipertegas
oleh Sudjana yang menyatakan bahwa mengajar adalah suatu proses mengatur dan
mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan
dan mendorong siswa melakukan kegiatan belajar. Berdasarkan tinjauan proses,
pembelajaran terdapat dua kegiatan yang terjadi dalam satu kesatuan waktu
dengan pelaku yang berbeda. Pelaku belajar adalah siswa, sedangkan pelaku
pengajar adalah guru. Kegiatan siswa dan kegiatan guru berlangsung dalam proses
yang bersamaan untuk mencapai tujuan instruksional tertentu. Jadi dalam proses
pembelajaran terjadi hubungan yang interaktif antara guru dan siswa dalam
ikatan tujuan instruksional.
Evaluasi Model CIPP
Konsep evaluasi model CIPP pertama kali dikemukakan oleh
Stufflebeam tahun 1965 sebagai hasil usahanya mengevaluasi ESEA . Konsep
tersebut ditawarkan Stufflebeam dengan pandangan bahwa tujuan penting evaluasi
adalah bukan membuktikan tetapi untuk memperbaiki. Hal ini dipertegas oleh
Madaus dkk. yang mengemukakan the CIPP approach is based on the view that the
most important purpose of evaluation is not to prove but to improve. Evaluasi
model CIPP dapat diterapkan dalam berbagai bidang, seperti pendidikan,
manajemen, perusahaan serta dalam berbagai jenjang baik itu proyek, program
maupun institusi. Dalam bidang pendidikan Stufflebeam menggolongkan sistem
pendidikan atas empat dimensi, yaitu context, input, process, dan product,
sehingga model evaluasi yang ditawarkan diberi nama CIPP model yang merupakan
singkatan ke empat dimensi tersebut.
Evaluasi Model Stake
Stake menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi,
yaitu description dan judgement , serta membedakan adanya tiga tahap dalam
program pendidikan, yaitu: antecedent ; transaction ; dan outcomes . Stake
berpendapat menilai suatu program pendidikan harus melakukan perbandingan yang
relatif antara program satu dan program yang lain, atau perbandingan yang
absolut yaitu membandingkan suatu program dengan standar tertentu .
Evaluasi Model Kirkpatrick
Kirkpatrick salah seorang ahli evaluasi program pelatihan
dalam bidang pengembangan sumber daya manusia . Model evaluasi yang
dikembangkan oleh Kirkpatrick dikenal dengan istilah Kirkpatrick Four Levels
Evaluation Model. Evaluasi terhadap keefektifan program pembelajaran menurut
Kirkpatrick mencakup empat level evaluasi, yaitu: level 1 reaction; level 2
learning; level 3 behavior; dan level 4 result.
a.
Mengevaluasi terhadap reaksi peserta didik berarti mengukur
kepuasan siswa . Program pembelajaran dianggap efektif apabila proses
pembelajaran dirasa menyenangkan dan memuaskan bagi peserta didik sehingga
mereka tertarik dan termotivasi untuk belajar dan berlatih. Dengan kata lain
peserta didik akan termotivasi apabila proses pembelajaran berjalan secara
memuaskan bagi peserta didik yang pada akhirnya akan memunculkan reaksi dari
peserta didik yang menyenangkan. Sebaliknya apabila peserta didik tidak merasa
puas terhadap proses pembelajaran yang diikutinya maka mereka tidak akan
termotivasi untuk mengikuti pembelajaran lebih lanjut. Hal ini dipertegas oleh
Partner mengemukakan the interest, attention and motivation of the participants
are critical to the success of any training program, people learn better when
they react positively to the learning environment. Disimpulkan bahwa
keberhasilan proses kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari minat, perhatian,
dan motivasi peserta didik dalam mengikuti jalannya kegiatan pembelajaran.
Orang akan belajar lebih baik manakala mereka memberi reaksi positif terhadap
lingkungan belajar.
Kepuasan peserta didik dapat dikaji dari beberapa aspek,
yaitu materi yang diberikan, fasilitas yang tersedia, strategi penyampaian
materi yang digunakan oleh guru, media pembelajaran yang tersedia, dan jadwal
kegiatan pembelajaran. Mengukur reaksi dapat dilakukan dengan reaction sheet
dalam bentuk angket sehingga lebih mudah dan lebih efektif.
b.
Kirkpatrick mengemukakan learning can be defined as the
extend to which participants change attitudes, improving knowledge, and/or
increase skill as a result of attending the program.
Desain Program Pembelajaran
Desain program pembelajaran dinilai dari: aspek tujuan yang
ingin dicapai ataupun kompetensi yang akan dikembangkan; strategi pembelajaran
yang akan diterapkan, dan isi program pembelajaran.
a.
Salah satu aspek dari program pembelajaran yang dijadikan
obyek evaluasi adalah kompetensi yang akan dikembangkan, khususnya kompetensi
dasar dari mata pelajaran yang bersangkutan. Ada beberapa kriteria yang dapat
digunakan untuk menilai kompetensi dasar yang akan dikembangkan, yaitu:
menunjang pencapaian kompetensi standar kompetensi maupun kompetensi lulusan;
jelas rumusan yang digunakan ; mampu menggambarkan dengan jelas perubahan
tingkah laku yang diharapkan diri siswa; dan mempunyai kesesuaian dengan
tingkat perkembangan siswa.
Implementasi Program Pembelajaran
Selain desain program pembelajaran, proses implementasi
program atau proses pelaksanaan pun perlu dijadikan obyek evaluasi, khususnya
proses belajar dan pembelajaran yang berlangsung di lapangan. National Council
for the Social Studies mengemukakan evaluation istrument should measure both
content and process. Disimpulkan bahwa evaluasi dalam social studies seharusnya
mengukur isi maupun proses pembelajaran.
Hasil Program Pembelajaran
Selain desain program dan implementasi, komponen ketiga yang
perlu dievaluasi adalah hasil-hasil yang dicapai oleh kegiatan pembelajaran.
Hasil yang dicapai ini dapat mengacu pada pencapaian tujuan jangka pendek
maupun mengacu pada pencapaian tujuan jangka panjang .
PENUTUP
Mengevaluasi keberhasilan program pembelajaran tidak cukup
hanya dengan mengadakan penilaian terhadap hasil belajar siswa sebagai produk
dari sebuah proses pembelajaran. Kualitas suatu produk pembelajaran tidak
terlepas dari kualitas program pembelajaran dan proses pembelajaran itu
sendiri. Evaluasi terhadap program pembelajaran yang disusun dan dilaksanakan
guru harus menjangkau penilaian terhadap: desain pembelajaran, yang meliputi
kompetensi yang dikembangkan, strategi pembelajaran yang dipilih, dan isi program;
implementasi program pembelajaran atau kualitas pembelajaran; dan hasil program
pembelajaran. Penilaian terhadap hasil program pembelajaran tidak cukup
terbatas pada hasil jangka pendek atau output tetapi sebaiknya juga menjangkau
outcome dari program pembelajaran. Berbagai model evaluasi program dapat
dipilih oleh guru maupun sekolah untuk mengadakan evaluasi terhadap
keberhasilan program pembelajaran. Pemilihan suatu model evaluasi akan
tergantung pada kemampuan evaluator, tujuan evaluasi serta untuk siapa evaluasi
itu dilaksanakan. Sistem evaluasi yang dilakukan guru harus difokuskan dengan
jelas pada proses perbaikan daripada pertanggungjawaban untuk produk akhir.
Sistem ini harus dioperasikan dekat dengan titik intervensi untuk perubahan.
Pendekatan analisis evaluasi pembelajaran dikembangkan dalam memenuhi kebutuhan
sekolah. Kompleksitas permasalahan yang dihadapi evaluasi di bidang pendidikan
harus ditangani dengan analisis multivariat sehingga dapat memberikan bimbingan
kepada pengawas dan kepala sekolah sebagai upaya perubahan.
DAFTAR RUJUKAN
Ebel, R. L., dan Frisbie, D. A. 1986. Essential of
Educational Measurement. New Jersey: Prentice Hall, Inc. Gredeer, B., dan
Margaret, E. 1986. Learning and Instruction: Theory into Practice. New York: Macmillan
Publising.
Komentar
Posting Komentar