KULTUR SEKOLAH










Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh ...


Alhamdulillah pada hari ini saya masih diberi kenikmatan sehat untuk bisa mengetik di blog ini 


Nah, pada kali ini saya akan melaporkan/berbagi hasil membaca saya mengenai startegi pembelajaran untuk memenuhi tugas mata kuliah Magang 1. Bahan yang menjadi sumber membaca saya yaitu jurnal yang berjudul “STRATEGI PEMBELAJARAN”

 PENGERTIAN KULTUR SEKOLAH Secara etimologis, budaya berasal dari bahasa Inggris yakni culture. Culture atau diterjemahkan budaya adalah serangkaian aturan yang dibuat oleh masyarakat sehingga menjadi milik bersama dan dapat diterima oleh masyarakat. Menurut Koentjaraningrat (2003: 72) kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dengan belajar. Kultur dijadikan sebagai pedoman hidup bersama bagi kelompok masyarakat, yang mencakup cara berfikir, perilaku, sikap, nilai yang tercermin baik dalam wujud fisik maupun non-fisik. Yang berwujud fisik ditampakan dalam bentuk artifak, sedangkan yang non-fisik dimanifestasikan dalam bentuk kegiatan social dan seni. Secara alamiah suatu kultur akan diwariskan dari suatu generasi kepada generasi berikutnya. Kultur atau budaya adalah sesuatu kebiasaan atau pola perilaku normatif yang merupakan hasil olah pikir, olah rasa, dan cara bertindak. Salah satu ilmuwan yang banyak memberikan sumbangan penting dalam hal ini adalah antropolog dari Amerika Serikat yakni Clifford Geertz. Antropolog ini mendefinisikan kultur sebagai suatu pola pemahaman terhadap fenomena sosial, yang terekspresikan secara eksplisit maupun implisit. Sekolah merupakan salah satu tempat berkembangnya pewarisan kultur dari generasi ke generasi berikutnya. Pengertian kultur sekolah beraneka ragam. 

Salah satunya yang dinyatakan Stolp dan Smith (1995: 78-86) bahwa kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi atau penemuan oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah yang berhasil baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut. Kultur sekolah merupakan bentuk komitmen bersama yang dipakai untuk melakukan hidup bersama serta diterapkan memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak lulusan yang cerdas dan berakhlak mulia. Para ahli lain mendefinisikan budaya sekolah sebagai sebagai sebuah sistem orientasi bersama (norma-norma, nilai-nilai, dan asumsi-asumsi dasar) yang dipegang oleh warga sekolah, yang akan menjaga kebersamaan unit dan memberikan identitas yang berbeda dari sekolah lain. Jadi, kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai suatu warga masyarakat sekolah. Dengan bahasa lain dapat dikatakan bahwa budaya sekolah adalah suatu pola asumsi-asumsi dasar, nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaankebiasaan yang dipegang bersama oleh seluruh warga sekolah, yang diyakini dan telah terbukti dapat dipergunakan untuk menghadapi berbagai problem dalam beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan melakukan integrasi internal, sehingga pola nilai dan asumsi tersebut dapat diajarkan kepada anggota dan generasi baru agar mereka memiliki pandangan yang tepat bagaimana seharusnya mereka memahami, berpikir, merasakan dan bertindak menghadapi berbagai situasi dan lingkungan yang ada. Kultur sekolah diyakini memiliki peran dalam menghasilkan kinerja yang terbaik pada masing-masing individu, kelompok kerja atau unit kerja sekolah. Oleh karena itu, sekolah sebagai satu institusi, perlu membangun hubungan sinergitas antarwarga sekolah yang positif agar memperbaiki kualitas sekolah yang bersangkutan. Beberapa kajian menunjukkan salah satu faktor penghambat pencapaian prestasi sekolah ialah kultur atau budaya sekolah. Oleh karena itu, untuk memperbaiki kualitas sekolah perlu dilakukan melalui sentuhan budaya sekolah terlebih dahulu jika mutu pendidikan ingin diperbaiki. Jika ditinjau dari usaha peningkatan kualitas sekolah, ada tiga jenis kultur sekolah.

1. Kultur yang positif, adalah kegiatan-kegiatan yang mendukung (pro) peningkatan kualitas pendidikan. Misalnya kerjasama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap yang berprestasi, dan komitmen terhadap belajar. 

2. Kultur sekolah negatif, adalah kegiatan-kegiatan yang kontra peningkatan kualitas pendidikan. Misalnya siswa takut berbuat salah, siswa takut bertanya/mengemukakan pendapat, siswa jarang melakukan kerjasama dalam memecahkan masalah. 

3. Kultur sekolah yang netral di antaranya adalah: acara arisan keluarga sekolah, seragam guru, dll. 

IDENTIFIKASI KULTUR SEKOLAH Beberapa hal yang dapat diidentifikasikan sebagai kultur sekolah, misalnya: 1. Artifak a. dapat diamati seperti: arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacaraupacara, ritus-ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar-gambar, tandatanda, sopan santun, cara berpakaian. b. tak dapat diamati: berupa norma-norma kelompok atau cara-cara tradisional berperilaku yang telah lama dimiliki kelompok. 2. Nilai-nilai dan keyakinan: Nilai dan keyakinan yang ada di sekolah dan menjadi ciri utama sekolah, misalnya: ungkapan Rajin Pangkal Pandai; Air Beriak Tanda Tak Dalam, dan berbagai penggambaran nilai dan keyakinan lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STRATEGI PEMBELAJARAN

Evaluasi Program Pembelajaran